SAYA YANG BERPUTUS HARAPAN

9:24:00 AM Aliza 0 Comments

Sejak beberapa hari.. beberapa jam.. beberapa minit.. kepala saya agak bercelaru.. runsing.. kusut.. jiwa kacau.. aduh.. tatau kenapa.. disebabkan hormon perempuan tiap-tiap bulan kah?? apakah?? Orang ada di sebelah pun kekadang saya boleh buat tak tahu, seperti tiada sesiapa...saya banyak termenung melayan perasaan yang kacau.. bila makan pun, tangan saja yang menyuap makanan.. mulut mengunyah tapi fikiran entah melayang ka mana hala.. mungkinkah dek kerana masalah yang sedang bertalu-talu menimpa? mungkinkah kerana jiwa saya yang tak tenteram.. atau mungkinkah bukan keadaan seperti sekarang yang saya harapkan...

Saya rasa sejak kebelakangan ini, kehidupan saya amat sukar sekali.. bermacam-macam kesukaran yang timbul... bermacam-macam.. hinggakan terlalu sukar juga untuk diungkaikan.. saya seolah-olah menjadi seorang yang patah semangat, putus harapan untuk teruskan apa yang cuba saya perjuangkan. saya rasa seolah-olah HIDUP itu tiada seri lagi, tiada makna melainkan menyusahkan diri saya saja... tapi keluaga bagaimana pula.. anak-anak bagaimana pula, suami bagai mana pulak kalau saya malas untuk teruskan hidup. Hinggakan ada ketika saya cukup nantikan hari semalam dan kelmarin.. serasa menoleh ke belakang adalah yang terbaik buat saya.. kerana itu saja hari-hari bahagia yang dapat saya rasakan dalam hidup saya.. apakah patut semua itu? Hingga ke saat ini, saya masih menanti dengan penuh sabar menjelmanya hari semalam dan kelmarin...
Sedetik pula, hati saya bemonolog sendiri, tidak bersyukurkah saya... tidak kuatkah saya untuk diuji... apakah dengan bersikap sedemikian rupa Allah akan meletakkan saya di "tempatNya". Astagfirullahhalazim.... beristigfar sejenak.. terus saya mencari kekauatan diri dan hati.. bahawa semua ini adalah ujian semata-mata.. dan saya harus kuat... kuat dan kuat... tapi semampu manakah saya.. sehingga bila... adakah sehingga saya gugur dari mempertahankan ketahanan diri???


SIKAP MANUSIA TERHADAP UJIAN ALLAH

Menghadapi ujian dari Allah Ta’ala tersebut, kebanyakan manusia tidak lulus. Hanya sedikit orang-orang yang lulus ujian, sedikit orang-orang yang beriman, sedikit orang-orang yang bersyukur kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salaam:
Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). (QS. Yusuf (12): 38)

Juga sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala kepada RosulNya yang paling mulia, Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi was salam:

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. (QS. Yusuf: 103)
Oleh karena itulah jumlah yang banyak bukanlah standar kebenaran. Standar kebenaran adalah wahyu yang dibawa oleh Rosululloh dari Allah Ta’ala, yang difahami oleh para sahabatnya.

SIKAP MANUSIA MENGHADAPI UJIAN KESUSAHAN

 
Banyak manusia berputus asa dengan kesusahan yang mereka alami, seolah-olah kesusahan itu tidak akan hilang dari mereka. Allah juga berfirman:

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika dia ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (QS. Fushilat: 49)

Imam Ibnu Katsir berkata: “Manusia itu tidak bosan meminta kebaikan kepada Robbnya, yaitu meminta harta, kesehatan badan, dan lainnya. Namun jika keburukan menimpanya, yaitu musibah atau kemiskinan, dia menjadi putus asa lagi putus harapan, yaitu terbetik pada fikirannya, bahwa setelah itu kebaikan tidak akan pernah menghampirinya”. (Tafsir Ibnu Katsir, surat Fushilat: 49)


SIKAP MANUSIA MENGHADAPI UJIAN KESENANGAN

Namun sebaliknya, jika manusia itu mendapatkan berbagai macam kesenangan dan kenikmatan, maka kebanyakan mereka melupakan kepada Penciptanya. Mereka menganggap bahwa mereka berhak mendapatkan kenikmatan itu, mereka menganggap itu semua karena usahanya dan kepandaiannya. Kemudian kebanyakan mereka berbuat melewati batas!
Dan sesungguhnya kebanggaan dan kesombongan itu tidak menyelamatkan mereka dari siksa Allah sedikitpun. Allah berfirman:

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, Maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Az-Zumar: 49-50)

Allah juga berfirman:

Dan jika Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. (QS. Fushilat: 50)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini: “Yaitu: jika manusia mendapatkan kebaikan dan rizqi setelah kesusahan, dia mengatakan: “Ini untukku, aku berhak mendapatkannya di sisi Rabbku”.
FirmanNya “dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang”, yaitu dia kafir terhadap datangnya hari kiamat. Yaitu karena Allah memberikan kenikmatan, dia menjadi sombong, berbangga, dan kafir.

FirmanNya: “dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya“, yaitu jika terjadi hari kiamat, maka Robbku akan berbuat baik kepadaku, sebagaimana di dunia ini telah berbuat baik kepadaku. Dia berangan-angan kosong terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, padahal dia berbuat buruk dan tidak meyakini (hari kiamat).

Firman Allah: “Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan, dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras“, yaitu Allah mengancam dengan hukuman dan siksaan terhadap orang yang perbuatannya dan keyakinannya seperti itu”. (Tafsir Ibnu Katsir, surat Fushilat, 59)


Bila baca artikel dari blog seseorang.. tetiba rasa bersalah dan berdosa yang amat.. kenapa saya tak boleh menjadi kuat.... hanya sedikit ujian Allah.. tapi saya menjadi begitu lemah...



za: kekadang tak tahu bagaimana untuk lari dari semua kekusutan dan mereka-mereka yang mengusutkan

0 comments:

Google+ Followers

Follow by Email

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...